Perfilman Indonesia Kirim 3 Wakil Di Tokyo International Film Festival 2019 (Bagian 3)

Ruangtunggu.online – Perfilman Indonesia patut berbangga karena 3 wakilnya lolos ke Tokyo International Film Festival 2019. Festival tersebut merupakan salah satu festival film bergengsi di daratan Asia.

Jika di bagian pertama ruangtunggu telah mengurai Foxlore: A Mother’s Love karya Joko Anwar dan di bagian 2 tentang Alkisah Si Hiruk Pikuk (The Science of Fiction) karya Yoseph Anggi Noen. Maka kali ini akan membahas film terakhir yang menjadi wakil perfilman Indonesia di Tokyo tersebut.  

Namun sebelum kami membahas tentang karya tersebut, kami akan sedikit menceritakan sejarah kebangkitan film action di dalam perfilman Indonesia. Karena wakil terakhir Indonesia di Tokyo International Film festival 2019 adalah bergenre action.

Perfilman Indonesia Diramaikan Genre Action

Pada awal 1990-an hingga akhir 2000-an bisa dikatakan genre film action sedang mati suri di perfilman Indonesia. Pada era 1990-an, sinema Indonesia hanya didominasi oleh film-film panas. Nyaris tidak ada genre lain selain soal sex.

Kalaupun ada film action, itu hanya sekedar bumbu dalam film-film panas tersebut. Jumlahnya juga tak banyak. Setelah itu, era 2000-an, perfilman Indonesia mulai menunjukkan kebangkitan. Film-film panas sedikit demi sedikit mulai berkurang, namun tidak hilang sama sekali.

Biasanya, film panas telah dipadu dengan horor. Sehingga ketika penonton sudah mulai panas, bakal emosi karena dikejutkan dengan hadirnya hantu. Pada era tersebut, perfilman Indonesia lebih didominasi oleh film drama dan komedi.

Kemudian, di tahun 2006, Rudi Soedjarwo membuat sebuah film action berjudul 9 Naga. Sebuah film yang melejitkan nama Lukman Sardi di belantara sinema Indonesia. Film tersebut sukses besar secara komersil dan kualitas.

Aktor-aktor yang bermain di film tersebut, seperti Lukman Sardi, Donny Alamsyah, dan Fauzi Badila kemudian laris di pasaran dan bermain di banyak film hingga kini. Meski demikian, 9 Naga lebih didominasi drama daripada adegan actionnya.

Nah, di tahun 2010, The Raid yang disutradarai oleh Gareth Evans muncul sebagai film action yang mampu mendatangkan banyak penonton ke Bioskop dan menandai debut Iko Uwais sebagai aktor action di tanah air. Sejak saat itu, genre action mulai mendapat tempat dalam perfilman Indonesia.

Foxtrot Six Menggebrak Perfilman Indonesia

Kini dalam setahun, para sineas dalam negeri tak ketinggalan untuk membuat film action. Begitu pula di tahun 2019. Salah satu film action yang rilis dan mendapatkan tempat di hati penonton perfilman Indonesia adalah Foxtrot Six.

Foxtrot Six bercerita tentang situasi di Indonesia di masa depan. Jadi bisa dikatakan film ini merupakan action futuristik. Saat itu, di Indonesia muncul sekelompok pemberontak yang ingin berkuasa di negeri ini dengan cara yang ilegal.

ruangtunggu - Perfilman Indonesia Kirim 3 Wakil Di Tokyo International Film Festival 2019 | andresyaideep.net
ruangtunggu – Perfilman Indonesia Kirim 3 Wakil Di Tokyo International Film Festival 2019 | andresyaideep.net

Kelompok pemberontak tersebut sangat sadis dan kejam. Siapapun yang menghalangi tujuannya, bakal dibunuh. Pada saat itulah, seorang mantan tentara tergugah hatinya untuk menyelamatkan negeri yang sangat ia cintai tersebut.

Narasi Nasionalis Dengan Nuansa Futuristik

Narasinya sangat terasa nasionalis sekali. Bisa dikatakan Foxtrot Six merupakan film yang mencoba membangkitkan kecintaan terhadap tanah air. Kalau dulu film-film nasionalis Indonesia banyak bercerita tentang pertempuran para pejuang melawan para penjajah.

Kini, dalam bentuk pertempuran melawan teroris. Selain itu, dapat dikatakan jika Foxtrot Six adalah film action futuristik pertama di Indonesia. Kalau di Hollywood atau Jepang, kita tak akan heran lagi dengan banyaknya film bertema action futuristik.

Di Hollywood terdapat banyak film action futuristik terkenal seperti Waterworld, The Book of Eli, dan Mad Max. Sementara itu di Jepang terdapat Attack on The Titan.

Banyak Kritik Sosial

Foxtrot Six bukan hanya dihiasi banyak adegan pertarungan. Tapi juga kritik sosial, seperti soal kemiskinan. Film ini dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas perfilman indonesia. Seperti Oka Antara, Verdy Sulaiman, Julie Estelle, Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Mike Lewis, Arifin Putra, Cok Simbara, Godfrey Orindeod, Miller Khan, dan Edward Akbar.

Foxtrot Six disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Randy Korompis serta sinematografi dari Ical Tanjung. Semoga kesuksesan film ini bakal diikuti hadirnya film-film bernuansa futuristik lainnya di Indonesia.

Rizki Irwan Wijaya

Menulis adalah karya seni yang abadi ketika dunia dihantam asteroid

You may also like...

Leave a Reply