Perfilman Indonesia Kirim 3 Wakil Di Tokyo International Film Festival 2019 (Bagian 2)

Ruangtunggu.online – Pada artikel Perfilman Indonesia Mengirim 3 Wakil Di Tokyo International Film Festival (Bagian 1), kami telah membahas Folklore: A Mother’s Love sebagai wakil Perfilman Indonesia di Tokyo International Film Festival 2019.

Kini, Ruangtunggu.online akan mengulas film selanjutnya yang mewakili negeri ini di salah satu festival terbesar dan tertua di Asia tersebut.

Alkisah Si Hiruk Pikuk (The Science of Fiction)

Sebuah kisah unik dalam dunia perfilman Indonesia. Selama ini jarang ada film fiksi ilmiah yang sukses di negeri ini. Hal itu pula yang membuat sutradara-sutradara Indonesia enggan untuk membuat karya dengan genre fiksi ilmiah.

Mereka lebih suka membuat karya dengan genre comedy, drama, atau horor dibanding genre lainnya, terutama fiksi ilmiah. Genre-genre tersebut mampu meraup sukses secara komersil. Namun beda dengan rata-rata sutradara negeri ini yang mencoba main aman, Yoseph Anggi Noen dengan berani membuat sebuah karya fiksi ilmiah.

Sebuah Plot Unik Pendaratan Manusia Ke Bulan

Tidak tanggung-tanggung karya tersebut menampilkan kisah tentang sejarah ‘pembuatan’ pendaratan manusia ke Bulan.  Alkisah Si Hiruk Pikuk atau dalam bahasa Inggris diberi judul The Science of Fiction ini menceritakan sebuah kejadian di tahun 1962 yang dialami seorang petani desa bernama Siman.

Saat itu Siman datang ke sebuah gumuk pasir yang luas di sudut Pantai Parangtritis Yogyakarta. Tak disangka ia melihat sebuah pemandangan langka. Yaitu pengambilan gambar film fiksi pendaratan manusia ke Bulan oleh sekelompok kru asing. Sialnya, para tentara yang bertugas mengamankan area itu melihat Siman yang berada di situ.

Siman segera ditangkap oleh para tentara tersebut dan dipotong lidahnya. Hal itu membuat Siman tak lagi mampu bicara seumur hidup. Namun setelah kejadian itu, ia selalu melakukan tingkah polah yang dianggap aneh oleh penduduk desa tempat ia tinggal.

Koreografi Unik Dari Sang Pemeran Utama Menambah Khazanah Perfilman Indonesia

ruangtunggu.online - Perfilman Indonesia Kirim 3 Wakil Di Tokyo International Film Festival 2019 (Bagian 2)
ruangtunggu.online – Perfilman Indonesia Kirim 3 Wakil Di Tokyo International Film Festival 2019 (Bagian 2)

Siman selalu melakukan gerakan lambat seolah-olah ia adalah seorang astronot yang sedang berada di Bulan. Tak hanya itu, ia juga membuat rumah kecil berbentuk semacam pesawat luar angkasa dari kardus.

Setiap keluar rumah, Siman selalu memakai helm putih unik layaknya astronot. Meskipun tak mampu menceritakan kisah yang dialaminya dengan verbal, Siman berusaha menyebarkan kejadian itu dengan menggunakan gerakan-gerakan tubuh.

Namun penduduk desa bukannya percaya, malah semakin menganggapnya aneh. Keanehan demi keanehan yang dilakukannya membuat para penduduk desa memvonis Siman ke tingkat yang lebih ekstrem, yaitu ‘gila’. Siman tak peduli dengan predikat yang diberikan warga masyarakat.

Ia tetap konsisten bercerita dengan memanfaatkan tubuh yang ia miliki. Siman diperankan oleh aktor teater kawakan, Gunawan Maryanto yang sebelumnya telah bekerja sama dengan Yoseph Anggi Noen lewat film Istirahatlah Kata-kata yang menceritakan fragmen kehidupan Wiji Thukul, seorang sastrawan dan aktifis yang hilang di era rezim Orde Baru.

Tentu saja Gunawan Maryanto yang memiliki kemampuan gerak yang mumpuni sebagai aktor teater mampu menampilkan gerakan-gerakan unik dan menarik pada adegan Siman bercerita dengan tubuh. Seolah-olah kita sedang menyaksikan pertunjukan teater. Aktor kawakan ini menambah khazanah perfilman Indonesia dengan koreografi yang baik.

Wakil Perfilman Indonesia Pernah Mendapatkan Penghargaan Di Festival Bergengsi

Selain menjadi sutradara, Yoseph Anggi Noen juga menjadi penulis naskah Alkisah Hiruk Pikuk atau The Science of Fiction. Sebelum menjadi wakil perfilman Indonesia di Tokyo International Film Festival, film ini juga tayang di Locarno Film Festival 2019.

Yang membanggakan, wakil perfilman Indonesia ini mendapatkan penghargaan Special Mentions di Locarno Film Festival 2019 yang digelar di Swiss tersebut. Locarno Film festival sendiri merupakan salah satu festival film terbaik dunia. Setara dengan festival-festival level atas lainnya, seperti Cannes Film Festival, Venice Film Festival, dan Berlin Film Festival.  

Rizki Irwan Wijaya

Menulis adalah karya seni yang abadi ketika dunia dihantam asteroid

You may also like...

2 Responses

  1. October 5, 2019

    […] Indonesia patut berbangga karena 3 wakilnya lolos ke Tokyo International Film Festival 2019 tokyo-international-film-festival-2019-bagian-2/. Festival tersebut merupakan salah satu festival film bergengsi di daratan […]

  2. November 9, 2019

    […] Silahkan baca ulasan-ulasan kami tentang film Indonesia yang mengikuti festival di luar negeri di sini. […]

Leave a Reply